Memasuki hari kedua, suasana workshop “Strategi Pengelolaan Media Sosial Sekolah” di GSG Way Halim masih terasa hangat, namun dengan energi yang lebih fokus. Jika hari pertama banyak membuka wawasan, hari kedua mulai mengarah pada satu hal yang lebih konkret: bagaimana semua itu benar-benar dijalankan.
Kegiatan kembali dipandu oleh moderator, Bapak Stefanus Sarji, yang menjaga ritme acara tetap hidup. Acara diawali dengan doa, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Yayasan, Romo RD. Andreas Sutrisno. Dalam pesannya, beliau tidak hanya mengapresiasi antusiasme peserta, tetapi juga mengingatkan bahwa workshop ini tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan semata. Ada tanggung jawab untuk membawa pulang, lalu menerapkannya di sekolah masing-masing.
“Yang terpenting bukan hanya memahami, tetapi menjalankan,” menjadi garis besar pesan yang terasa kuat di awal kegiatan hari kedua.
Memasuki sesi utama, narasumber Haris Suhendra, S.Kom., M.M. mengajak peserta melihat media sosial dari sudut pandang yang lebih strategis. Bukan sekadar tempat berbagi foto kegiatan, tetapi sebagai wajah sekolah di ruang digital.
Ia menekankan bahwa sekolah yang aktif dan terkelola dengan baik di media sosial, website, serta berbagai platform digital akan jauh lebih mudah ditemukan, terutama melalui mesin pencari seperti Google. Dalam realitas saat ini, proses orang tua memilih sekolah tidak lagi dimulai dari brosur atau rekomendasi semata, tetapi dari layar ponsel mereka.
Mulai dari mencari informasi, membandingkan, melihat aktivitas sekolah, hingga akhirnya mengambil keputusan—semuanya terjadi secara digital.
Karena itu, menurutnya, sekolah tidak bisa lagi asal hadir di media sosial. Konten harus dirancang dengan sadar: informatif, relevan, sekaligus mampu mencerminkan identitas sekolah. Apa yang ditampilkan di dunia digital, pada akhirnya akan membentuk persepsi publik.
“Kalau sekolah tidak menceritakan dirinya sendiri, maka orang lain yang akan membentuk ceritanya,” kira-kira itulah pesan yang tersirat kuat dalam sesi ini.
Menjelang penutupan, Romo RD. Andreas Sutrisno kembali memberikan penegasan. Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak ragu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pelayanan informasi kepada orang tua dan masyarakat. Setiap dokumentasi, setiap tulisan, setiap karya yang dihasilkan bukan sekadar konten, tetapi bagian dari upaya membangun kepercayaan.
Ia juga menekankan bahwa konsistensi adalah kunci. Bukan siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling bertahan dan terus berkarya.
Workshop hari kedua pun ditutup bukan hanya dengan rasa selesai, tetapi dengan kesadaran baru. Bahwa di era digital, sekolah tidak cukup hanya “baik” dalam kenyataan, tetapi juga harus mampu menghadirkan kebaikan itu secara nyata di ruang publik.
Pada akhirnya, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan pengingat bahwa citra, kepercayaan, dan masa depan sekolah kini juga dibangun melalui apa yang ditampilkan di layar.
Dan dari titik ini, pekerjaan sebenarnya justru baru dimulai.
SEMANGAT TERUS XAVEPAN !!!
ASIK ASIK ASIK !!!


